Minggu, 19 Desember 2010

game gratis

Buat para pecinta game terutama game-game free alias gratisan. Nie ada tempat gratis download, gak perlu pake daftar. Tapi mungkin beberapa dah pada tahu. Di situs ini semua gamenya full version, dengan berbagai kategori mulai dari time management, puzzle, racing, games for girls, action, ampe hidden object. Game online nya juga ada lho.
Game nya bisa buat windows XP, 2000, vista, ampe Windows7. Dijamin nie situs update. Selain itu juga cara downloadnya gampang, gak perlu pake 4shared, rapidshared, dan teman-teman sebangsanya.
Trus juga bagi temen-temen yang tau alamat situs serupa jangan lupa bagi-bagi ya. treu yang punya game-game full version juga bagi-bagi disini.^_^

nieh alamat situs free games : www.myplaycity.com

PENYAKIT BAWAAN DAN DAPATAN

Anggota gerak yang hilang akibat kelainan bawaan jumlahnya cukup banyak dari jumlah anak dibawah umur 15 tahun. 50% - 60% adalah amputee congenital dan 10% kelaianan akhirnya dikoreksi dengan amputasi. Anggota gerak yang hilang akibat perolehan setelah lahir setelah lahir jumlahnya hampir sama dengan kelainan bawaan. Dari jumlah anak dibawah umur 15 tahun terdapat 30% - 40%. Dari jumlah tersebut, 30% disebabkan neoplasma atau tumor dari 70% disebabkan trauma atau ruda paksa, 25% dari trauma disebabkan oleh trauma kecelakaan lalu lintas.
Anggota gerak yang hilang itu disebabkan karena mengalami amputasi dimana sebelumnya penyakit atau kecelakaan mengharuskan dilakukannya tindakan operasi amputasi. Orang yang mengalami amputasi disebut amputee.

Pengertian
Kelainan anggota yang dimaksud adalah hilangnya anggota sebagian atau secara keseluruhan dari anggota gerak atas atau anggota gerak bawah. Anggota gerak yang hilang ini sebagai akibat kelainan bawaan yang disebabkan oleh terganggunya proses pertumbuhan dan perkembangan selama dalam kandungan pada 4 bulan pertama, sebagai akibat penyakit atau keracunan obat.penyebab lain adalah diperoleh setelah lahir.
Istilah-istilah yang digunakan untuk menyebut kelainan-kelainan tersebut menurut Frauz dan O’rahilly adalah Amelia yaitu seluruh anggota gerak hilang. Meromalia yaitu apabila sebagian anggota gerak hilang. Phocomelia yaitu apabila anggota gerak yang hilang masih terdapat jari-jari yang menempel atau bersatu dengan gelang bahu atau gelang panggul. Bagi oarng yang mengalami amputasi disebut amputee.


Sebab-sebab
Sebab-sebab anggota gerak ini disebabkan oleh bawaan dan diperoleh setelah lahir. Dari kedua sebab tersebut secara umum kemungkinannya diakibatkan oleh hal-hal berikut :
a. Pemakaian obat penenang seperti thalidonide.
b. Pengaturan jarak kelahiran, kemungkinan terjadi pada 4-6 minggu kehamilan dimana mulai tumbuh kaki janin.
c. Penyakit yang dialami ibu selama mengandung yang dapat mempengaruhi sel telur.
d. Karena adanya tali pusat yang menjerat pada bagian tubuh janin yang sedang tumbuh di dalam kandungan.
e. Karena neoplasma atau tumor yang menyerang anggota gerak tubuh anak.
f. Karena trauma atau ruda paksa yang dialami anak seperti kecelakaan lalu lintas, atau kecelakaan lainnya.

Patogenesa
Patogenesa dari kelainan anggota gerak bersifat bawaan yang mentap tidak terdapat perjalan penyakit sebagaimana penyebab kelainan lainnya. Karena sejak lahir sudah diketahui adanya kelainan dan tidak akan terjadi perubahan bentuk, ataupun perkembangan penyakit kearah yang lebih buruk. Untuk kelainan yang diperoleh setelah lahir karena penyakit, kecelakaan yang mengharusakan tindakan operasi amputasi, maka patogenesa tergantung dari apa yang menjadi penyebabnya.
Misalnya penyebabnya kecelakaan lalu lintas maka akan terjadi kemungkinan, operasi amputasi segera, hal ini dilakukan karena anggota gerak yang hancur tidak dapat dipertahankan lagi, atau untuk mencegah keadaan yang lebih buruk. Dari anggota gerak yang mengalami kecelakaan kemungkinan lain operasi amputasi dilakukan, karena anggota gerak yang mengalami kecelakaan, setelah mengalami penanganan secara intensif, tidak dapat kembali sembuh secara sempurna.
Tindakan operasi dilakukan untuk mencegah komplikasi yang lebih buruk. Dengan demikian patogenesa dari kelainan anggota gerak bukan merupakan suatu penyakit, sebagaimana yang dialami penyakit-penyakit lain, akan tetapi merupakan keadaan kelainan yang sudah terjadi atau kelainan hilangnya anggota gerak disebabkan suatu tindakan operasi yang dilakukan untuk menolong seseorang supaya terhindar dari keadaan penyakit atau akibat kecelakaan yang dapat mengancam jiwanya.

Gejala-gejala
Gejala-gejala yang timbul tergantung dari jenis kelainan, penyebab, dan untuk kelainan anggota gerak yang disebabkan faktor bawaan dapat dibedakan sebagai berikut:
1. Kelainan Amelia
Cirinya anggota gerak secara keseluruhan tidak ada. Anggota gerak atas yang tertinggal hanya bahu, sendi bahu tidak ada. Anggota gerak bawah yang tertinggal hanya pantat, sendi paha atau panggul tidak ada.
2. Kelainan Phocomelia
Cirinya anggota gerak sebagian hilang atau tidak sempurna, anggota gerak yang hilang biasanya, sebagian lengan bawah, dibawah sendi siku. Sebagian tungkai, dibawah sendi lutut.
Untuk anggota gerak yang hilang karena diperoleh setelah lahir, biasanya karena penyakit atau kecelakaan yang dimungkinkan tindakan operasi berupa amputasi, yaitu berupa pemotongan anggota gerak tubuh. Akibatnya anak mengalami kelainan amputee.
Amputee ini dibedakan menjadi amputee gerak atas dan amputee gerak bawah dengan cirri sesuai dengan batas amputee yang dialaminya. Misalnya amputee di atas siku, maka lengan bawah mulai sendi siku tidak ada.
Kelainan Fungsi
1. Cara pengenalan kelainan anggota gerak bawah
Kelainan bawaan Amelia dengan mudah dapat dikenal apabila seluruh anggota gerka hilang, bagi anggota gerak atas yang tertinggal hanya bahu, sehingga sendi bahu tidak ada atau untuk anggota gerak bawah yang hilang adalah sendi paha yang tertinggal hanya pantat saja. Dengan demikian seluruh fungsi anggota gerak hilang.
Kelainan bawaan phocomelia dengan mudah diketahui apabila adanya jari-jari yang menempel pada gelang bahu atau gelang panggul. Kelainan dari sebagian anggota gerak di mana bagian pangkal dan ujungnya masih utuh disebut meromelia, sedangkan bagian di antaranya hilang atau tidak sempurna. Ditinjau dari segi hambatan pada anggota gerak atas, hanya terletak pada kekuatan lengan bawah, sedangkan jari tangan fungsinya mungkin normal.
Pada kaki kekuatan bawah lutut untuk menahan beban akan berkurang bila sebagian dari tibia di bawah lutut hilang atau tidak sempurna. Bentuk kelainan lain dari amputee yang sama keadaannya denga amputee yang diperoleh setelah lahir, adalah amputee di mana anggota gerak tersebut seperti dipotong di atas atau di bawah siku, seperti dipotong di atas atau di bawah lutut, seperti dipotong di atas atau di bawah pergelangan tangan, sehingga telapak tangan dan jari tangan hilang.
2. Pengenalan gangguan fungsi akibat hilangnya anggota gerak
Cara mengenal amputee anggota gerak atas:
a. Amputee gelang bahu di mana seluruh anggota gerak atas hilang dan disebut shoulder disarticulation. Cara pengenalan gangguan fungsinya adalah akibat seluruh anggota gerak sehingga fungsi kegiatan hilang dan perlu seluruhnya dibuatkan alat palsu agar fungsi tersebut dapat ada atau pulih kembali.
b. Amputee di atas siku sehingga fungsi lengan bawah hilang. Cara pengenalan gangguan fungsinya adalah hilangnya fungsi siku, pergelangan, telapak, dan jari tangan. Dengan demikian tugas dari bidang ortopedi memikirkan alat pengganti fungsi siku, lengan bawah, pergelangan, telapak, dan jari tangan.
c. Amputee bawah siku keadaannya hampir sama dengan amputee atas siku apabila ditinjau dari segi gangguan fungsi anggota gerak.
d. Amputee pergelangan tangan sehingga telapak dan jari tangan hilang. Cara pengenalan gangguan fungsi sama dengan amputee dibawah siku.
e. Amputee telapak dan jari tangan sehingga fungsi tangan tidak seluruhnya hilang sebab sebagian jari atau telapak tangan masih utuh
Cara mengenal amputee anggota gerak bawah:
a. Amputee dimana seluruh anggota gerak bawah dari sendi paha hilang dan disebut hip disarticulation atau sebagian dari pinggul hilang dan disebut hemicorporectomy. Akibatnya fungsi jalannya akan terganggu berat.
b. Amputee bawah lutut sehingga bagian anggota gerak yang hilang adalah sendi lutut, tungkai bawah, pergelangan, dan telapak serta jari kaki. Fungsi jalan akan terganggu aka tetapi tidak seberat akibat hilangnya sendi paha.
c. Amputee bawah lutut sehingga bagian anggota gerak yang hilang adalah sebagian tungkai bawah, pergelangan dan telapak, serta jari kaki. Gangguan fungsinya sama dengan amputee atas lutut.
d. Amputee sampai pergelangan kaki dimana telapak dan jari kaki hilang. Secara fungsi dapat berjalan normal.

Komplikasi
Komplikasi yang mungkin timbul juga tergantung dari penyebab kelainan. Untuk kelainan bawaan konplikasi yang mungkin timbul dapat berupa kontraktur yang untuk kelainan karena penyakit dapat berupa penyebaran penyakit atas infeksi ke bagain tubuh lainnya yang sebelumnya sehat. Untuk kelainan anggota gerak karena kecelakaan setelah operasi amputasi kemungkinan komplikasi dapat berupa kontrektur dan infeksi setelah operasi.

Prognosis
Pada umumnya prognosis untuk kelainan anggota gerak ini baik, kecuali yang disebabkan tumor. Tumor pada anggota gerak, terutama yang ganas, setelah operasi amputasi ada kemungkinan penyakit tumornya timbul kembali dan menyebar atau metastase. Keadaan ini dapat mengancam jiwa anak yang mengalaminya.

Prinsip Penanganan
Untuk penanganan kelainan anggote gerak dapat dibedakan berdasarkan sebab-sebab yang melatarbelakanginya. Pada prinsipnya penanganan ditujukan untuk mencegah komplikasi dan mengembangkan mengembalikan kemampuan fungsi dari anggota gerak yang hilang. Untuk kelainan anggota gerak yang dapat difungsikan. Selain itu perlu pertimbangan penggunaan alat-alat bantu sesuai dengan kebutuhan.
Untuk kelainan anggota gerak karena penyakit perlu diperhatikan komplikasi berupa kemungkinan perjalanan penyakit atau timbulnya kembali penyakit lama setelah tindakan operasi amputasi. Perawatan luka operasi dan apabila luka operasi sembuh perlu dipertimbangkan penggunaan alat bantu yang sesuai kebutuhan, pengembalian fungsi anggota gerak yang hilang.
Untuk kelainan anggota gerak karena kecelakaan yang mengalami amputasi pada prinsipnya sama dengan penanganan yang dilakukan untuk menangani kelainan anggota gerak oleh sebab lain yang telah disebutkan.

Metodik Khusus Pembelajaran Matematika / Berhitung Untuk Anak Tunanetra

Seperti kita ketahui, matematika adalah salah satu ilmu yang mempunyai peranan sangat penting dalam kehidupan untuk membantu manusia memahami dan menguasai permasalahan sosial, ekonomi, dan alam. Matematika juga menunjang pelajaran lain seperti fisika dan kimia. Secara tidak langsung, belajar matematika akan membentuk sikap yang diperlukan dalam kehidupan manusia seperti teliti, teratur dan rapi. Karena peranannya yang sangat penting, maka konsep dasar matematika yang dimiliki anak harus kokoh dan kuat serta diajarkan dengan benar. Paling tidak, aritmetika dasar yang melibatkan kalkulasi sederhana seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian harus dikuasai dengan sempurna. Pernyataan yang mengatakan bahwa matematika sangat sulit diajarkan untuk anak tunanetra sebenarnya hanyalah pandangan mereka yang melihat tunanetra dari segi hambatan.
Karena telah banyak penelitian yang mengungkapkan bahwa anak tunanetra dapat belajar matematika jika mereka diajarkan dengan cara yang tepat. Saat ini belajar matematika menjadi sesuatu yang sangat mungkin bagi anak tunanetra dengan adanya perkembangan berbagai alat bantu hitung atau alat ajar seperti; taylor frame, papan hitung(kubaritma), Alat peraga kreasi(buatan guru) dan abacus serta metode pengajaran yang lebih efektif. Darling (1985) menyatakan bahwa aktivitas belajar bagi anak tunanetra dapat diciptakan sama dengan anak yang tidak mengalami hambatan penglihatan. Ia mengatakan bahwa alat bantu matematika sangat penting digunakan dalam mengembangkan konsep-konsep yang benar bagi anak tunanetra. Selain itu penggunaan alat bantu seperti abacus bagi anak tunanetra diperlukan untuk efektivitas melakukan perhitungan dan pada akhirnya akan membentuk mental aritmetika anak tunanetra. Dengan kemampuan mental aritmetika yang baik akan mempermudah anak tunanetra menyelesaikan soal-soal yang berkaitan dengan kalkulasi.


A. Pembelajaran matematika
Matematika terdiri dari 3 bidang pembelajaran utama yaitu ; aljabar, geometri, dan aritmetika yang akan menjadi pembahasan dalam penulisan ini. Pembelajaran utama ini dapat diisampaikan pada anak secara sebertahap seperti berikut:
1. Mengenalkan pengertian himpunan dengan mempergunakan benda-benda konkrit.
2. Mengenalkan konsep bilangan dengan jelas seperti menghitung bagian tubuh sendiri dan bermain dengan alat / permainan yang menarik bagi anak.
3. Mengajarkan angka-angka.
4. Menganalisa operasi-operasi matematika secara bermain-main:
5. Mengajarkan tanda / kode matematika dank kode-kode operasi matematika.
6. Bentuk dasar geometri.
7. Aritmatika
Aritmetika merupakan pemecahan soal-soal yang bentuknya komputasi sederhana. Untuk belajar aritmetika dibutuhkan penguasaan komputasi dasar terlebih dahulu yang terdiri dari ; penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian. Oleh sebab itu untuk belajar aritmetika secara efisien, kemampuan tersebut di atas harus dapat dilaksanakan secara otomatis.
Alat hitung dalam pembelajaran matematika
1. Abacus
Abacus adalah alat hitung ukuran kantung yang menggunakan pergerakan manik-manik untuk melakukan perhitungan dasar ditambah proses-proses perhitungan aritmetika yang lebih maju. Konsep penggunaan abacus didasarkan pada sistem nilai tempat, dimana abacus terbagi menjadi 2 posisi; bagian atas terdiri dari 1 manik-manik yang mempunyai nilai 5 dan bagian bawah terdiri dari 4 manik-manik yang masing-masing mempunyai nilai 1. Meskipun abacus memfasilitasi perhitungan yang cepat, sayangnya alat ini belum banyak digunakan dalam dunia pendidikan luar biasa di Indonesia karena sebagian besar guru tidak mengetahui cara bekerja abacus untuk perhitungan matematika.
Contoh pemecahan soal menggunakan alat abacus (belajar membuat bayangan di pikiran):
a. Mengembangkan mental aritmetika
Catatan :
lakukan kegiatan perhitungan di luar kepala (dalam alam pikiran anak)
Penjumlahan dengan menyimpan
Buatlah sebuah contoh soal, misalnya ;
10 + 8 = ....
Mintalah anak untuk melakukan perhitungan sebagai berikut :
10 + 8 = 10 + ( 10 – 2 )
= ( 10 + 10 ) – 2
= 20 – 2
= 18
b. Pengurangan dengan meminjam
Buatlah sebuah contoh soal, misalnya ;
11 – 8 = ....
Mintalah anak untuk melakukan perhitungan sebagai berikut :
11 – 8 = 11 – ( 10 + 2 )
= ( 11 – 10 ) + 2
= 1+ 2
= 3

2. Kecekan
Kecekan merupakan alat bantu hitung yang banyak dijumpai di Indonesia yang menggunakan sistem nilai tempat dengan basis 10. Alat ini banyak digunakan pada siswa-siswa SD di kelas-kelas awal ( 1 – 3 ) untuk melakukan operasi hitung sederhana dalam aritmetika ( penjumlahan dan pengurangan ).Penerapan konsep abacus dengan alat hitung kecekan
Contoh pemecahan soal menggunakan kecekan:
a. Penjumlahan sederhana
Buatlah satu contoh soal, misalnya ;
11 + 23= ….
Mintalah anak untuk meletakkan bilangan 11 menggunakan beberapa manik-manik dengan posisi ;
Letakkan 1 manik-manik di posisi puluhan
Letakkan 1 manik-manik di posisi satuan
Tambahkan dengan bilangan 23 dengan ketentuan :
Menambahkan 2 manik-manik di posisi puluhan sehingga menjadi 5 manik-manik
Menambahkan 3 manik-manik di posisi satuan sehingga menjadi 8 manik-manik
Hasil akhirnya menjadi :
3 manik-manik di posisi puluhan
4 manik-manik di posisi satuan
Hasilnya : 34
b. Penjumlahan dengan menyimpan
Buatlah satu contoh soal, misalnya ;
12 + 9 = ….
Buat bilangan 12 dengan meletakkan beberapa manik-manik dengan posisi ;
Letakkan 1 manik-manik di posisi puluhan
Letakkan 2 manik-manik di posisi satuan
Tambahkan dengan bilangan 9 di posisi satuan. Karena di posisi satuan hanya memiliki 1 manik-manik maka perhitungan dilakukan dengan ketentuan
Menambahkan 1 manik-manik di posisi puluhan sehingga menjadi 2 manik-manik
Mengurangkan/menggeser ke kanan 1 manik-manik di posisi satuan sehingga menjadi 1 manik-manik
Hasil akhirnya menjadi :
2 manik-manik di posisi puluhan
1 manik-manik di posisi satuan
Hasilnya : 21


c. Pengurangan dengan meminjam
Buatlah satu contoh soal, misalnya ;
24 – 8 = ….
Mintalah anak untuk meletakkan beberapa manik-manik dengan posisi ;
Letakkan 2 manik-manik di posisi puluhan
Letakkan 4 manik-manik di posisi satuan
Kurangi dengan bilangan 8 pada posisi satuan. Karena pada posisi satuan hanya terdapat 4 manik-manik, maka pengerjaan hitungan dilakukan dengan ketentuan :
Mengurangkan/menggeser ke kanan 1 manik-manik di posisi puluhan sehingga menjadi 1 manik-manik
Mengurangkan/menggeser ke kiri 2 manik-manik di posisi satuan sehingga menjadi 6 manik-manik
Hasil akhirnya menjadi :
5 manik-manik di posisi puluhan
6 manik-manik di posisi satuan
Hasilnya : 16

Prasyarat penggunaan alat tersebut, siswa harus telah memahami nilai tempat dalam sistem desimal, misalnya angka 888 mempunyai nilai berbeda antara yang di depan (ratusan), tengah (ribuan) dan belakang (satuan). Ketentuan lain yang berlaku dalam menyajikan penerapan konsep abacus pada alat hitung kecekan adalah : ketika melakukan operasi hitung penjumlahan, maka baris pertama pada kecekan harus dikosongkan dan tidak digunakan. Sebab baris pertama akan digunakan ketika perhitungan harus menyimpan pada nilai tempat berikutnya ( ratusan atau ribuan ). Tetapi ketika melakukan operasi hitung pengurangan, maka baris pertama tetap digunakan.
Kemudian dalam matematika juga terdapat konsep geometri. Pengajaran konsep geometri dapat dilakukan dengan cara penggunaan kertas lipat. Agar anak tuna netra lebih memahami konsep sederhana dari geometri menggunakan kertas yang mereka temui sehari-hari atau menggunakan benda yang sudah mereka kenal seperti batu, lidi, batang pohon atapun yang lain untuk memperkenalkan konsep ini. Dan pengenalan konsep geometri dimulai dari yang paling sederhana yaitu bangun datar.
B. Metodik Khusus Matematika untuk anak Tunanetra
a. Hal-hal yang perlu diperhatikan guru dalam pengajaran adalah:
- materi
- metodik dan alat yang spesifik
- evaluasi
b. Beberapa petunjuk dan contoh penyampaian materi
1). Sistem penyampaian PPSI dengan SP-nya
2). Prosesing
a). Persiapan : merencanakan SP untuk topic yang hendak diajarkan.
b). Kegiatan belajar-mengajar :
- memilih metode
- menentukan harapan : pengalaman belajar dalam jenis:
- informasi
- mencoba dan melatih
- menghayati
c). Evaluasi kegiatan belajar-mengajar :
- Evaluasi balikan (food back) dari proses kegiatan
- Evaluasi hasil kegiatan mengajar
Evaluasi ini dilakukan setelah informasi atau contoh guru diberikan kepada anak hal ini agar guru dapat mengetahui pemahaman dan penguasaan materi yang telah disampaikan guru. Hasil dari kegiatan anak menjadi masukan dari guru:
i) Sebagai umpan balik hasil kegiatan anak dapat dipakai sebagai titik tolak perencanaan program tindak lanjut dari kegiatan anak.
Apakah perlu kembali pada tahap sebelumnya ataukah perlu remedial pada kesalahan tertentu.
ii) Sebagai evaluasi hasil : setelah latihan maka sebagai kelengkapan dari hasil belajar anak dapat diberikan soal-soal yang berbeda dan setingkat. Kemajuan dapat dilihat dari hasil evaluasi tersebut.


Ketika penyajian proses pembelajaran ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan guru antara lain : anak harus gembira dan rileks sewaktu belajar. Kondisi ini sangat diperlukan agar anak mampu memahami materi yang dipelajari dengan baik. Gunakan musik yang dapat membuat anak rileks. Bangun komunikasi yang baik antara guru dan siswa. Gunakan pilihan kata, intonasi suara yang positif serta sentuhan yang bermakna. Hal ini akan membantu membangun harapan yang tinggi dan positif. Jaga pikiran kita agar selalu positif. Jangan membuat label yang negatif bagi anak.