Seperti kita ketahui, matematika adalah salah satu ilmu yang mempunyai peranan sangat penting dalam kehidupan untuk membantu manusia memahami dan menguasai permasalahan sosial, ekonomi, dan alam. Matematika juga menunjang pelajaran lain seperti fisika dan kimia. Secara tidak langsung, belajar matematika akan membentuk sikap yang diperlukan dalam kehidupan manusia seperti teliti, teratur dan rapi. Karena peranannya yang sangat penting, maka konsep dasar matematika yang dimiliki anak harus kokoh dan kuat serta diajarkan dengan benar. Paling tidak, aritmetika dasar yang melibatkan kalkulasi sederhana seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian harus dikuasai dengan sempurna. Pernyataan yang mengatakan bahwa matematika sangat sulit diajarkan untuk anak tunanetra sebenarnya hanyalah pandangan mereka yang melihat tunanetra dari segi hambatan.
Karena telah banyak penelitian yang mengungkapkan bahwa anak tunanetra dapat belajar matematika jika mereka diajarkan dengan cara yang tepat. Saat ini belajar matematika menjadi sesuatu yang sangat mungkin bagi anak tunanetra dengan adanya perkembangan berbagai alat bantu hitung atau alat ajar seperti; taylor frame, papan hitung(kubaritma), Alat peraga kreasi(buatan guru) dan abacus serta metode pengajaran yang lebih efektif. Darling (1985) menyatakan bahwa aktivitas belajar bagi anak tunanetra dapat diciptakan sama dengan anak yang tidak mengalami hambatan penglihatan. Ia mengatakan bahwa alat bantu matematika sangat penting digunakan dalam mengembangkan konsep-konsep yang benar bagi anak tunanetra. Selain itu penggunaan alat bantu seperti abacus bagi anak tunanetra diperlukan untuk efektivitas melakukan perhitungan dan pada akhirnya akan membentuk mental aritmetika anak tunanetra. Dengan kemampuan mental aritmetika yang baik akan mempermudah anak tunanetra menyelesaikan soal-soal yang berkaitan dengan kalkulasi.
A. Pembelajaran matematika
Matematika terdiri dari 3 bidang pembelajaran utama yaitu ; aljabar, geometri, dan aritmetika yang akan menjadi pembahasan dalam penulisan ini. Pembelajaran utama ini dapat diisampaikan pada anak secara sebertahap seperti berikut:
1. Mengenalkan pengertian himpunan dengan mempergunakan benda-benda konkrit.
2. Mengenalkan konsep bilangan dengan jelas seperti menghitung bagian tubuh sendiri dan bermain dengan alat / permainan yang menarik bagi anak.
3. Mengajarkan angka-angka.
4. Menganalisa operasi-operasi matematika secara bermain-main:
5. Mengajarkan tanda / kode matematika dank kode-kode operasi matematika.
6. Bentuk dasar geometri.
7. Aritmatika
Aritmetika merupakan pemecahan soal-soal yang bentuknya komputasi sederhana. Untuk belajar aritmetika dibutuhkan penguasaan komputasi dasar terlebih dahulu yang terdiri dari ; penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian. Oleh sebab itu untuk belajar aritmetika secara efisien, kemampuan tersebut di atas harus dapat dilaksanakan secara otomatis.
Alat hitung dalam pembelajaran matematika
1. Abacus
Abacus adalah alat hitung ukuran kantung yang menggunakan pergerakan manik-manik untuk melakukan perhitungan dasar ditambah proses-proses perhitungan aritmetika yang lebih maju. Konsep penggunaan abacus didasarkan pada sistem nilai tempat, dimana abacus terbagi menjadi 2 posisi; bagian atas terdiri dari 1 manik-manik yang mempunyai nilai 5 dan bagian bawah terdiri dari 4 manik-manik yang masing-masing mempunyai nilai 1. Meskipun abacus memfasilitasi perhitungan yang cepat, sayangnya alat ini belum banyak digunakan dalam dunia pendidikan luar biasa di Indonesia karena sebagian besar guru tidak mengetahui cara bekerja abacus untuk perhitungan matematika.
Contoh pemecahan soal menggunakan alat abacus (belajar membuat bayangan di pikiran):
a. Mengembangkan mental aritmetika
Catatan :
lakukan kegiatan perhitungan di luar kepala (dalam alam pikiran anak)
Penjumlahan dengan menyimpan
Buatlah sebuah contoh soal, misalnya ;
10 + 8 = ....
Mintalah anak untuk melakukan perhitungan sebagai berikut :
10 + 8 = 10 + ( 10 – 2 )
= ( 10 + 10 ) – 2
= 20 – 2
= 18
b. Pengurangan dengan meminjam
Buatlah sebuah contoh soal, misalnya ;
11 – 8 = ....
Mintalah anak untuk melakukan perhitungan sebagai berikut :
11 – 8 = 11 – ( 10 + 2 )
= ( 11 – 10 ) + 2
= 1+ 2
= 3
2. Kecekan
Kecekan merupakan alat bantu hitung yang banyak dijumpai di Indonesia yang menggunakan sistem nilai tempat dengan basis 10. Alat ini banyak digunakan pada siswa-siswa SD di kelas-kelas awal ( 1 – 3 ) untuk melakukan operasi hitung sederhana dalam aritmetika ( penjumlahan dan pengurangan ).Penerapan konsep abacus dengan alat hitung kecekan
Contoh pemecahan soal menggunakan kecekan:
a. Penjumlahan sederhana
Buatlah satu contoh soal, misalnya ;
11 + 23= ….
Mintalah anak untuk meletakkan bilangan 11 menggunakan beberapa manik-manik dengan posisi ;
Letakkan 1 manik-manik di posisi puluhan
Letakkan 1 manik-manik di posisi satuan
Tambahkan dengan bilangan 23 dengan ketentuan :
Menambahkan 2 manik-manik di posisi puluhan sehingga menjadi 5 manik-manik
Menambahkan 3 manik-manik di posisi satuan sehingga menjadi 8 manik-manik
Hasil akhirnya menjadi :
3 manik-manik di posisi puluhan
4 manik-manik di posisi satuan
Hasilnya : 34
b. Penjumlahan dengan menyimpan
Buatlah satu contoh soal, misalnya ;
12 + 9 = ….
Buat bilangan 12 dengan meletakkan beberapa manik-manik dengan posisi ;
Letakkan 1 manik-manik di posisi puluhan
Letakkan 2 manik-manik di posisi satuan
Tambahkan dengan bilangan 9 di posisi satuan. Karena di posisi satuan hanya memiliki 1 manik-manik maka perhitungan dilakukan dengan ketentuan
Menambahkan 1 manik-manik di posisi puluhan sehingga menjadi 2 manik-manik
Mengurangkan/menggeser ke kanan 1 manik-manik di posisi satuan sehingga menjadi 1 manik-manik
Hasil akhirnya menjadi :
2 manik-manik di posisi puluhan
1 manik-manik di posisi satuan
Hasilnya : 21
c. Pengurangan dengan meminjam
Buatlah satu contoh soal, misalnya ;
24 – 8 = ….
Mintalah anak untuk meletakkan beberapa manik-manik dengan posisi ;
Letakkan 2 manik-manik di posisi puluhan
Letakkan 4 manik-manik di posisi satuan
Kurangi dengan bilangan 8 pada posisi satuan. Karena pada posisi satuan hanya terdapat 4 manik-manik, maka pengerjaan hitungan dilakukan dengan ketentuan :
Mengurangkan/menggeser ke kanan 1 manik-manik di posisi puluhan sehingga menjadi 1 manik-manik
Mengurangkan/menggeser ke kiri 2 manik-manik di posisi satuan sehingga menjadi 6 manik-manik
Hasil akhirnya menjadi :
5 manik-manik di posisi puluhan
6 manik-manik di posisi satuan
Hasilnya : 16
Prasyarat penggunaan alat tersebut, siswa harus telah memahami nilai tempat dalam sistem desimal, misalnya angka 888 mempunyai nilai berbeda antara yang di depan (ratusan), tengah (ribuan) dan belakang (satuan). Ketentuan lain yang berlaku dalam menyajikan penerapan konsep abacus pada alat hitung kecekan adalah : ketika melakukan operasi hitung penjumlahan, maka baris pertama pada kecekan harus dikosongkan dan tidak digunakan. Sebab baris pertama akan digunakan ketika perhitungan harus menyimpan pada nilai tempat berikutnya ( ratusan atau ribuan ). Tetapi ketika melakukan operasi hitung pengurangan, maka baris pertama tetap digunakan.
Kemudian dalam matematika juga terdapat konsep geometri. Pengajaran konsep geometri dapat dilakukan dengan cara penggunaan kertas lipat. Agar anak tuna netra lebih memahami konsep sederhana dari geometri menggunakan kertas yang mereka temui sehari-hari atau menggunakan benda yang sudah mereka kenal seperti batu, lidi, batang pohon atapun yang lain untuk memperkenalkan konsep ini. Dan pengenalan konsep geometri dimulai dari yang paling sederhana yaitu bangun datar.
B. Metodik Khusus Matematika untuk anak Tunanetra
a. Hal-hal yang perlu diperhatikan guru dalam pengajaran adalah:
- materi
- metodik dan alat yang spesifik
- evaluasi
b. Beberapa petunjuk dan contoh penyampaian materi
1). Sistem penyampaian PPSI dengan SP-nya
2). Prosesing
a). Persiapan : merencanakan SP untuk topic yang hendak diajarkan.
b). Kegiatan belajar-mengajar :
- memilih metode
- menentukan harapan : pengalaman belajar dalam jenis:
- informasi
- mencoba dan melatih
- menghayati
c). Evaluasi kegiatan belajar-mengajar :
- Evaluasi balikan (food back) dari proses kegiatan
- Evaluasi hasil kegiatan mengajar
Evaluasi ini dilakukan setelah informasi atau contoh guru diberikan kepada anak hal ini agar guru dapat mengetahui pemahaman dan penguasaan materi yang telah disampaikan guru. Hasil dari kegiatan anak menjadi masukan dari guru:
i) Sebagai umpan balik hasil kegiatan anak dapat dipakai sebagai titik tolak perencanaan program tindak lanjut dari kegiatan anak.
Apakah perlu kembali pada tahap sebelumnya ataukah perlu remedial pada kesalahan tertentu.
ii) Sebagai evaluasi hasil : setelah latihan maka sebagai kelengkapan dari hasil belajar anak dapat diberikan soal-soal yang berbeda dan setingkat. Kemajuan dapat dilihat dari hasil evaluasi tersebut.
Ketika penyajian proses pembelajaran ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan guru antara lain : anak harus gembira dan rileks sewaktu belajar. Kondisi ini sangat diperlukan agar anak mampu memahami materi yang dipelajari dengan baik. Gunakan musik yang dapat membuat anak rileks. Bangun komunikasi yang baik antara guru dan siswa. Gunakan pilihan kata, intonasi suara yang positif serta sentuhan yang bermakna. Hal ini akan membantu membangun harapan yang tinggi dan positif. Jaga pikiran kita agar selalu positif. Jangan membuat label yang negatif bagi anak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar